![]() |
|
| Relevansi Makna Tradisi Slametan Kematian Dan Upacara Sembahyang Kematian Pada Majelis Agama Buddha Nichiren Shoshu Buddha Dharma Indonesia | ||
| 作者 | Winarsih (著) ; Asih, Situ (著) ; Sukarti (著) |
|---|---|
| 出處題名 | Patisambhida: Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama |
| 卷期 | v.3 n.2 |
| 出版日期 | 2022 |
| 頁次 | 22 - 34 |
| 出版者 | STABN Raden Wijaya Wonogiri |
| 出版者網址 | https://radenwijaya.ac.id/ |
| 出版地 | Wonogiri, Indonesia |
| 資料類型 | 期刊論文=Journal Article |
| 使用語言 | 印尼文=Indonesian |
| 關鍵詞 | Makna=Meaning; Relevansi=Relevance; Upacara Selametan=Selametan Ceremony; Sembahyangan Kematian MNSBDI=Prayer MNSBDI |
| 摘要 | Setiap kehidupan didunia ini pasti akan mengalamai sebuah kematian, tidak mengenal dari keluarga kaya maupun keluarga miskin. disetiap tempat memiliki tradisi yang berbeda dalam menyemayamkan leluhurnya. Pada agama buddha terdapat upacara yang berbeda dengan tradisi budaya setempat. Slametan kematian dan upacara sembahyang kematian serta relevansi antara tradisi Slametan kematian dengan upacara sembahyang kematian agama Buddha Majelis Nichiren Shoshu Buddha Dharma Indonesia (MNSBDI). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Slametan kematian dan upacara sembahyangan kematian MNSBDI di Dukuh Gupit ini tidak dapat dipisahkan karena saling berkaitan satu sama lain mengikuti tradisi nenek moyang dan adanya akulturasi campuran atau akulturasi antara kepercayaan nenek moyang dan agama. Keduanya penting untuk di laksanakan agar arwah mendiang mendapatkan sumbangan doa dari sanak saudara yang di tinggalkan supaya arwahnya mendapat tempat yang lebih baik, terbebas dari pederitaan, sehingga dapat terlahir di alam yang bahagia dan dapat mencapai kesadaran Buddha. Makna dari upacara Slametan kematian dan sembahyang kematian yaitu sebagai wujud bakti seorang anak kepada orangtua dan arwah leluhur yang telah meninggal. Every life in this world, whether rich or poor, will inevitably experience death. Every place has different ancestor worship traditions. There are some rituals in Buddhism that are different from local cultural traditions. Death prayers and death prayer rituals and the connection between the death prayer rituals of the Slametan tradition and the death prayer rituals of the Nichiren Shoshu Buddhist Council of Indonesia (MNSBDI). This study adopted a descriptive qualitative approach. Data collection was done through interviews, observations and notes. The results of the study show that the death tradition of Slametan is inseparable from the death prayer ritual of MNSBDI in Dukugubi, because they follow the traditions of their ancestors, are related to each other, and there is a situation of mixed accumulation or mutual accumulation. . Both are important, so that the soul of the deceased can receive prayer donations from the relatives left behind, so that the soul can find a better place, be freed from pain, be reincarnated into the essence of happiness, and achieve Buddha enlightenment. The significance of Slametan death rituals and death prayers is a child's filial piety towards the souls of parents and deceased ancestors. |
| 目次 | Abstrak 22 Pendahuluan 23 Metode 25 Hasil dan Pembahasan 26 1. Tradisi Slametan Kematian 26 2. Tradisi Ritual Dalam Agama Buddha 27 a. Upacara Sembahyang Kematian 28 b. Pelaksanaan Sembahyang Kematian 28 3. Relevansi Makna Tradisi Slametan Kematian dan Upacara Sembahyang Kematian MNSBDI 30 Kesimpulan 31 Daftar Pustaka 32 |
| ISSN | 27459268 (E) |
| DOI | https://doi.org/10.53565/patisambhida.v3i2.875 |
| 點閱次數 | 98 |
| 建檔日期 | 2024.10.16 |
| 更新日期 | 2024.10.18 |
提示訊息
您即將離開本網站,連結到,此資料庫或電子期刊所提供之全文資源,當遇有網域限制或需付費下載情形時,將可能無法呈現。
