Korelasi Tradisi dan Budaya Orang Tionghoa=Correlation of Chinese Tradition and Culture
摘要
Tradisi Budaya orang Tionghoa adalah salah satu tradisi budaya tertua di dunia. Dicabutnya Inpres nomor 4/1967 tentang pembatasan penyelenggaraan agama atau kepeercayaan, adat istiadat dan budaya Tionghoa memberi peluang untuk berkembang seperti budaya –budaya yang lain. Sesuai sifatnya yang dinamis Tradisi Budaya ini mengalami perubahan bentuk maupun substansinya. Beberapa tradisi budaya itu adalah Perayaan Festifal Musim Semi (Im-Lek) yang disakralkan, Fenomena kesurupan Lauya/ Ta Thung mediator berkomunikasi dengan makluk halus yang dianggap Dewa, konon hanya hari-hari tertentu saja tetapi sekarang diekplorasi dalam kirab budaya untuk menarik wisatawan. Alkulturasi budaya dengan agama kadang mengaburkan makna sesungguhnya dari budaya itu. Terjadi pembudayaan agama atau sebaliknyapengagamaan budaya. Beberapa orang rela mati demi agamanya dan yang lain rela mati demi budayanya. Buddhisme memberikan kebebasan cara hidup seseorang sesuai dengan pilihannya. Buddha mengajarkan untuk berpikir kritis, tidak menerima begitu saja hanya karena hal itu telah tertulis dikitab-kitab suci, telah diPraktikan turun temurun dari generasi ke generasi, sebagai tradisi keluarga. Tetapi setelah diselidiki hal itu bermanfaat, membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi diri sendiri dan orang lain tradisi budaya itu dapat diterima sebagai suatu kebenaran. Pemahaman Tradisi Budaya orang Tionghoa ini kurang mendapatkan perhatian dari generasi muda yang katanya kritis,canggih, ilmiah dan modern. Generasi muda cenderung bersikap pragmatis, simpel dan mengenakan. Tradisi Budaya dipandang sebagai hal yang bertele-tele dan membuang banyak waktu sehingga kebenaran-kebenaran yang terdapat didalamnya dianggap sebagai dongeng, tahayul dan mitos yang tidak bermanfaat.
Chinese Cultural Traditions are one of the oldest cultural traditions in the world. The revocation of Presidential Instruction No. 4/1967 concerning restrictions on the implementation of religion or belief, customs and Chinese culture provides an opportunityto develop like other cultures. According to its dynamic nature, this Cultural Tradition has changed its form and substance. Some of these cultural traditions are the sacred Spring Festival (Im-Lek), the phenomenon of trance Lauya / Ta Thung mediator communicating with spirits who are considered Gods, supposedly only on certain days but now explored in a cultural carnival to attract tourists. The acculturation of culture with religion sometimes obscures the true meaning of that culture. There is religious cultivation or vice versa religious culture. Some people are willing to die for their religion and others are willing to die for their culture. Buddhism gives freedom to one's way of life according to his choice. Buddha taught to think critically, not to take it for granted just because it has been written in the scriptures, has been practiced from generation to generation, as a family tradition. But after being investigated it is useful, brings progress and prosperity for oneself and others that cultural tradition can be accepted as a truth. This understanding of Chinese cultural traditions has received less attention from the younger generation who are said to be critical, sophisticated, scientific and modern. The younger generation tends to be pragmatic, simple and wearing. Cultural traditions are seen as long-winded and a waste of time so that the truths contained in them are considered as useless tales, superstitions and myths.
目次
Abstrak 58 Pendahuluan 59 Metode 60 Hasil Penelitian dan Pembahasan 61 Simpulan 64 Daftar Pustaka 64