Tradisi Temu Manten merupakan sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Buddhis di Kabupaten Semarang. Tradisi ini sering kali digelar pada saat seseorang mempunyai hajat menikahkan anaknya. Tradisi pada perkawinan adat Jawa mempunyai banyak ritual seperti upacara Panggih atau Temu Manten yaitu pertemuan antara pengantin wanita dan pengantin pria di rumah kediaman wanita. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan tradisi Temu Manten di Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang dan mendeskripsikan nilai-nilai spiritual tradisi Temu Manten dalam perspektif masyarakat Buddhis di Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kualitatif dengan menggunakan model etnografi karena dalam penelitian ini peneliti berusaha untuk mengungkap dan mempelajari serta memahami kejadian yang konteksnya khas dan unik yang di alami oleh individu. Penelitian ini terbatas pada satu tempat di Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pelaksanaan tradisi Temu Manten di Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang melalui beberapa proses diantaranya proses yang harus dilalui dalam tradisi Temu Manten Nilai-nilai spiritual tradisi Temu Manten dalam perspektif masyarakat Buddhis di Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang adalah semua prosesi dan peralatan atau ubo rambe yang digunakan dan dilaksanakan dalam tradisi Temu Manten mengandung makna yang tujuannya baik yaitu mengaharapkan agar dalam membina kehidupan berkeluarga menjadi keluarga yang bahagia, bertanggung jawab, diberkahi, saling menghormati serta diberikan keselamatan.
The Temu Manten tradition is a tradition carried out by Buddhist communities in Semarang Regency. This tradition is often held when someone has the intention to marry his child. The tradition of Javanese traditional marriage has many rituals such as the Panggih ceremony or Temu Manten, a meeting between the bride and the groom at the woman’s residence. This study aims to describe the implementation of the Manten Gathering tradition in Sumowono Subdistrict, Semarang Regency and describe the spiritual values of the Temu Manten tradition in the perspective of Buddhist societies in Sumowono District, Semarang Regency. This study uses a qualitative study approach using an ethnographic model because in this study the researcher seeks to uncover and learn and understand the events that are unique and unique contexts experienced by individuals. This research was limited to one place in Sumowono Subdistrict, Semarang Regency. The results showed that the implementation of the Manten Gathering tradition in Sumowono Subdistrict, Semarang Regency through a number of processes including the process that must be passed in the tradition of Manten Gathering. used and implemented in the Temu Manten tradition contains a meaningful purpose, which is to hope that in fostering family life to be a happy, responsible, blessed, mutual respect and safety.
目次
Abstrak 43 Pendahuluan 44 Penelitian Relevan 50 Metode Penelitian 50 Lokasi Penelitian 50 Data Penelitian 51 Sumber Data Penelitian 51 Teknik Pengumpulan Data 51 Teknik Penentuan Informan 51 Teknik Analisis Data 51 Hasil Penelitian 52 Kesimpulan 55 Saran 55 Daftar Pustaka 55