Masalah Kurangnya Pemimpin Buddhis Berskala Nasional Di Indonesia Saat Ini – Suatu Penelitian Faktual Atas Para Pemuda Dan Pemudi Buddhis Pada Beberapa Vihara Dan Perguruan Tinggi Di Jakarta Dan Sekitarnya
leadership=pemimpin; buddhism=Ajaran Buddha; buddhist leader=Pemimpin Buddhis; buddhist youths=Pemuda Buddhis
摘要
Leadership has become the focus of study for a long time. The word indicates a strong and dynamic individual who has successfully lead and become an icon in variousfields, including in the field of religion. For Indonesian Buddhist community, there are few persons perceived as a leader. There may be some locally prominent persons but not yet acknowledged natione-wide. That was shown in the result of the present study , every respondent could only mention three persons who they perceived as leaders. From all names emerging from the respondents there were just seven names to be Buddhist leaders.Furthermore, from seven names of Buddhist leaders, the uppermost was occupied by the late Bhikkhu Ashin Jinarakkhita. Besides, there were two Thai monks, ie. Bhikkhu Wongsin and Bhikkhu Kamsai . The remaining four nationally acknowledged by the respondents were Bhikkhu Pannavaro, Bhikkhu Subhakaro, Bhikkhu Piya Silo, and Bhikkhu Uttamo. None the less we know that there are still many prominent Buddhist activists, but their activities might not be down to earth enough so as they were not well-known by the respondents consisting of Buddhist youths living in Jakarta. The present study was done specifically to assess how popular are the Buddhist leaders in Indonesia. The study used qualitative and quantitative methods with purposive sampling among the Buddhist youths.The longterm aim of this study is to explore the cause of the lack of Buddhist leaders in Indonesia, so as repair efforts could be done to improve Buddhist leaders in Indonesia either qualitatively or quantitatively. So that they could perform not only nationally but also internationally.
Kepemimpinan adalah subyek penelitian yang telah lama menarik perhatian banyak orang, dan istilah kepemimpinan itu sendiri, umumnya mengkonotasikan citra individual yang kuat dan dinamis yang berhasil memimpin dan menjadi panutan pada berbagai bidang, tidak terkecuali pada bidang keagamaan. Sayangnya, untuk umat Buddhis di Indonesia yang tersebar dari Sabang hingga Merauke belum cukup mempunyai tokoh yang dapat dianggap sebagai pemimpin. Jika pun pemimpin itu ada di daerah-daerah atau kota-kota yang tersebar di seluruh bumi Nusantara, namun ketokohan mereka belum cukup dikenal secara nasional. Hal ini terbukti dari hasil jawaban kuesioner penelitian, bahwa setiap responden umumnya hanya dapat menyebutkantiga nama tokoh yang mereka anggap sebagai pemimpin, dan dari seluruh jawaban responden hanya dapat dikelompokkan menjadi tujuh nama pemimpin Buddhis. Bahkan dari tujuh nama pemimpin Buddhis tersebut, nama teratas diisi oleh almarhum bhikkhu Ashin Jinarakkhita, dan juga terdapat dua nama yang merupakan bhikkhu asal dari Thailand, yaitu bhikkhu Wongsin dan bhikkhu Kamsai. Sehingga praktis tersisa hanya ada empat tokoh Buddhis yang dikenal para responden sebagai pemimpin nasional Indonesia, yaitu bhikkhu Pannavaro, bhikkhu Subhakaro, bhikkhu Piya Silo, dan bhikkhu Uttamo. Padahal seperti kita ketahui masih terdapat banyak tokoh dan pemimpin Buddhis Indonesia yang belum termasuk dan tercantum namanya dalam jawaban responden. Hal ini membuktikan bahwa aktivitasmereka selama ini kurang membumi dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari tingkat kabupaten kota hingga propinsi dan nasional, termasuk ibukota DKI Jakarta. Sehingga akibatnya membuat mereka menjadi kurang dikenal bahkan oleh responden pemuda-pemudi Buddhis yang ada di Jakarta. Oleh karena itu, penelitian ini diadakan dengan target khusus ingin mengetahui sampai seberapa jauh tingkat popularitas para pemimpin Buddhis yang ada di Indonesia, baik untuk skala menggunakan metode penelitian kualitatif dan juga k
目次
Abstrak 12 Metode 14 Hasil dan Pembahasan 16 Simpulan 16 Daftar Rujukan 17