![]() |
|
| Brahma Vihara dan Rasa Ketakutan pada Era Modern | ||
| 作者 | Sapardi (著) |
|---|---|
| 出處題名 | Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis |
| 卷期 | v.4 n.2 |
| 出版日期 | 2017.12 |
| 頁次 | 53 - 59 |
| 出版者 | STABN Sriwijaya |
| 出版者網址 | https://stabn-sriwijaya.ac.id |
| 出版地 | Tangerang, Indonesia |
| 資料類型 | 期刊論文=Journal Article |
| 使用語言 | 印尼文=Indonesian |
| 關鍵詞 | brahma vihara; rasa ketakutan |
| 摘要 | The wars that take place in this world are a form of hatred, cruelty, violence to force others to submit. This puts aside the values of love and compassion. The Buddha firmly rejected the battle, although at one time the Buddha himself went to the battlefield and became a mediator to avoid a war between the Sakyans and the Koliya tribe. The two tribes are facing each other and are preparing to wage a war over the seizure of the Rohini river. In the end after being given the correct understanding then there is no war. The Buddha always develops the values of love for his students. Brahma vihara or sublime residence, consisting of Metta (Love), Karuna (compassion), Mudita (Simpati) and Upekkha (Inner Balance) are as human's internal aesthetic value. These aesthetic universal values should be developed to all humanity in the world regardless of ethnic, religious, state, and so on. Therefore, the issue of fighting, war, mutual destruction with one another will never be resolved if one with each other reply. The existence of war causes fear, has suspicion of suspecting each other, and cause tension. The Buddha said: "Never hatred can be removed by hating back; but hatred will be lost with love. This is the Eternal Truth "(Dhammapada 5 or Majjhimanikdya 128) Peperangan yang terjadi di dunia ini adalah bentuk kebencian, kekejaman, kekerasan untuk memaksa orang lain tunduk. Hal ini mengesampingkan nilai-nilai cinta kasih dan kasih sayang. Sang Buddha dengan tegas menolak peperangan tersebut, walaupun pada suatu ketika Buddha sendiri pergi ke medan perang dan menjadi orang penengah untuk menghindari terjadinya peperangan antara suku Sakya dan suku Koliya. Kedua suku tersebut saling berhadapan dan sudah bersiap-siap untuk melakukan peperangan terkait dengan perebutan perihal air sungai Rohini. Pada akhirnya setelah diberikan pemahaman yang benar kemudian tidak terjadi peperangan. Sang Buddha selalu mengembangkan nilai-nilai cinta kasih kepada siswanya. Brahma vihara atau kediaman luhur, yang terdiri atas Metta (Cinta kasih), Karuna (Belas kasihan), Mudita (Simpati) dan Upekkha (Keseimbangan batin) adalah sebagai nilai estetika internal manusia. Nilai-nilai universal estetis inilah yang seharusnya dikembangkan kepada seluruh umat manusia di dunia tanpa melihat perbedaan suku, agama, negara dan lain sebagainya. Oleh karena itu, bahwa persoalan tawuran, peperang, saling menghancurkan satu sama lain tidak akan pernah terselesaikan jika satu dengan yang lain saling membalasnya. Adanya peperangan menyebabkan rasa ketakutan, memiliki perasaan curiga mencurigai satu sama lain, dan menimbulkan ketegangan. Sang Buddha bersabda: ”Tidak pernah kebencian dapat dihilangkan dengan membalas membenci; tetapi kebencian akan hilang dengan cinta kasih. Ini merupakan Kebenaran Abadi” (Dhammapada 5 atau Majjhimanikaya 128). |
| 目次 | Abstrak 53 Pendahuluan 54 Pembahasan 55 Kesimpulan 58 Daftar Pustaka 58 |
| ISSN | 24426016 (P) |
| 點閱次數 | 68 |
| 建檔日期 | 2022.10.25 |
| 更新日期 | 2022.10.25 |
提示訊息
您即將離開本網站,連結到,此資料庫或電子期刊所提供之全文資源,當遇有網域限制或需付費下載情形時,將可能無法呈現。
