In conveying the subject matter the Buddhist teachers need to use a psychological approach, appropriate to their background and explain the subject matter in depth, detail and clear. Current conditions and situations are said to be less ideal conditions in which in conveying subject matter to students contrary to their views. Buddhist teachers must adapt existing practices and ideas by conveying the lessons according to the character of the listener (kausalya effort), which is a wise skill to change the outlook of society. In fact there are Buddhist teachers who explain the subject matter directed at a particular sect because the guidance that is used as a benchmark of a teacher is a learning device directed at a particular sect as well. This has an impact on the continuity of education that there are students who do not follow the teachings of Buddhism because the teachings of parents are different from those taught in school. The cultivation of dogmatic attitude continues to grow so fundamentalist attitudes toward religious teachings. When in religious teachings explained about humans who have the potential to behave good or bad. If the potential for good behavior of a person is weak, because it does not develop (through education), then human behavior in his life will decline so that bad deeds will arise such as killing, stealing, fornication, lying and drinking. In order for bad deeds to be controlled, in the sense of fulfillment in accordance with the teachings of religion, then the potential to behave well must be developed, ie through religious education from an early age. If religious values have been internalized in a person then he will be able to develop himself as a moral man, one of its characteristics is able to control themselves from the gratification of lust that is not in accordance with the teachings of religion.
Dalam menyampaikan materi pelajaran guru agama Buddha perlu menggunakan pendekatan psikologis, sesuai dengan latar belakang mereka dan menjelaskan materi pokok secara mendalam, terperinci dan jelas. Kondisi dan situasi saat ini dikatakan kondisi kurang ideal di mana dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa berlawanan pandangannya. Guru agama Buddha harus menyesuaikan praktik dan gagasan yang sudah ada, dengan menyampaikan pelajarannya sesuai dengan karakter pendengarnya (upaya kausalya) yaitu keterampilan yang bijaksana untuk mengubah cara pandang masyarakat. Pada kenyataannya ada guru agama Buddha yang menjelaskan materi pelajaran yang diarahkan pada sekte tertentu karena pedoman yang dijadikan patokan seorang guru adalah perangkat pembelajaran yang diarahkan pada sekte tertentu pula. Hal ini berdampak pada keberlangsungan pendidikan yakni terdapat siswa yang tidak mengikuti ajaran agama Buddha dikarenakan ajaran yang ditanamkan orang tua berbeda dengan yang diajarkan di sekolah. Penanaman sikap dogmatis terus dilakukan sehingga tumbuh sikap-sikap fundamentalis terhadap ajaran agama. Bila dalam ajaran agama dijelaskan mengenai manusia yang memilki potensi untuk berperilaku baik atau buruk. Jika potensi perilaku baik seseorang lemah, karena tidak berkembang (melalui pendidikan), maka perilaku manusia dalam hidupnya akan mengalami kemerosotan sehingga akan timbul perbuatan-perbuatan buruk seperti membunuh, mencuri, berzina, berdusta dan minum-minuman keras. Agar perbuatan buruk dapat dikendalikan,dalam arti pemenuhannya sesuai dengan ajaran agama, maka potensi berperilaku baik itu harus dikembangkan, yaitu melalui pendidikan agama dari sejak usia dini. Apabila nilai-nilai agama telah terinternalisasi dalam diri seseorang maka dia akan mampu mengembangkan dirinya sebagai manusia bermoral, yang salah satu karakteristiknya adalah mampu mengendalikan diri dari pemuasan hawa nafsu yang tidak sesuai dengan ajaran agama.